Tuesday, May 2, 2017

Tentang Cinta dan Buku Kedua (#CurhatGue Ep. 09)

Yogyakarta, 2 Mei 2017 3:34 p.m (GMT +7)

Alhamdulillah. Akhirnya setelah berjuang sekian lama, buku pertama gue akhirnya telah selesai dicetak. Untuk sementara, penjualan buku pertama gue ini memang gue serahkan ke Indie Book Corner terlebih dahulu. Memang, hasil penjualan bukunya tidak sesuai yang diharapkan sih, mungkin masih sedikit yang membeli langsung ke penerbit ataupun via gue. Dan, ada beberapa buku yang gue bagikan juga secara cuma-cuma atau gue ajak barter dengan karya teman-teman. Seperti, contohnya teman saya, seorang musisi hip-hop bernama Senartogok yang membeli buku gue dan membayarnya dengan album terbaru dia yang berjudul "Super Senar" disertai dengan poster bertandatangan dia.


Belum lagi, ada dua orang yang sudah memberikan review tentang buku pertamaku ini.

Review "Ketika Di Dalam Penjara" by Mia Fajarani
Review "Ketika Di Dalam Penjara" by Adhebhisma Chendikia

Dan juga disertai dengan beberapa feedback dari teman-teman lewat WA.

Jujur, meskipun aku merasa bahwa salah satu target hidupku tercapai yaitu mencetak satu buku. Aku masih merasa bahwa apa yang sudah diraih sekarang ini masih belum banyak. Terutama aku masih memegang mimpi untuk menjadi penulis yang diperhitungkan baik itu di Indonesia ataupun di dunia, punya buku yang best-selling atau tulisan yang selalu dinanti-nantikan banyak kaum. Memang membutuhkan sedikit konsistensi untuk bisa mencapai hal tersebut. Dan tentu saja, masalah terbesar dalam hidupku adalah... KONSISTENSI!

Baru saja aku mendapatkan chat dari salah satu teman baik yang aku berikan bukunya. Dia justru bilang bahwa bukuku bagus dan tentu saja menantikan anak keduaku. Or let's say.. buku kedua. Sebenarnya, aku pribadi sudah dalam rencana untuk merilis buku kedua, bahkan sudah mempertimbangkan konsepnya. Buku keduaku ini mungkin akan murni novel. Sebuah keinginan yang sebenarnya termaktub sejak SD untuk bisa memiliki buku cerita. Bahkan, aku sendiri sempat iseng-iseng bikin naskah film waktu SMP dan sayangnya, sempat tidak lanjut karena berbagai hal. Dan, tentu saja ketika itu temanya tentang percintaan.

Itu semua karena rasa delusi yang aku selalu punya sejak SMP. Terutama, terhadap artis cewek yang aku rasa cantik. Hal yang cukup wajar mengingat masa SMP bisa dibulang masa dimana kita mulai merasakan namanya gejolak cinta. Rasa yang menggebu-gebu. Bahkan, sebenarnya rasa delusi akan cinta itu masih terasa sampai sekarang, cuma mungkin lebih ke arah intimasi. I mean, you know lah. We talkin about marriage or some shit. And gue sekarang mulai kembali merasakan delusi itu. Kali ini korbannya adalah seorang member dari girlband Jepang populer yaitu E-Girls. I'm not gonna say her name now. She will be a cameo in my book.

Kata "intimasi" tentu adalah kata yang saya angkat pada buku kedua. Tetapi, pada kali ini, yang menjadi tokoh utamanya adalah Andi. Di buku pertama, diceritakan bahwa setelah selesai keluar dari jeratan Pornografi, Andi mulai kembali menemukan tujuan hidupnya. Beberapa bulan setelahnya, Andi bekerja sebagai wartawan/kontributor di media online yang baru berdiri. Kemudian, setelah beberapa lama, Andi ditugaskan oleh media online tersebut. Tugas tersebut dapat dibilang sebagai tugas yang berat, karena tugas ini tentu akan memberikan Andi sebuah tanggapan baru tentang cinta dan terutama, intimasi.

Tugasnya yaitu membuat dokumenter yang membahas tentang kegiatan prostitusi. Sebuah tugas yang cukup berat terutama bagi Andi yang bisa dibilang baru keluar dari jeratan Pornografi. Terutama bagi yang sukses keluar, hal ini tentu jadi tantangan berat buat dia. Hal ini menimbulkan dilema tingkat tinggi bagi Andi. Terutama, hal ini juga berhubungan dengan sisi budaya ataupun agama dan juga kesehatan.

But, tentu saja buku kedua tidak membahas tentang prostitusi. Ada pro, kontra, dilema dan banyak hal. Temanya adalah cinta dan intimasi.

Buku kedua ini Insya Allah akan dirilis tahun 2018. Naskah sudah dalam proses. Meski baru 5% jadi karena berbagai hal. Alasan awalnya adalah.. KONSISTENSI! Jika memungkinkan, bukuku ini mungkin akan dibuat dalam Bahasa Inggris. Itu juga termasuk buku pertamaku.

So, see you in my second book. Semoga goal saya di buku kedua ini tercapai. Ada yg tidak sabaran? Atau mungkin belum pernah baca buku pertamaku? Haha.

Sunday, February 5, 2017

Menulis Dari Penjara Adiksi (#CurhatGue Ep. 08)

5 Februari 2017, 4:15 p.m (GMT+7)

Dua tahun terakhir ini telah saya habiskan dengan mencoba untuk keluar dari sebuah hal yang benar-benar membuatku terkurung. Sebuah hal yang benar-benar membuatku benar-benar kehilangan arah, dan ujungnya gagal menemukan tujuan hidup yang sesungguhnya. Hal tersebut layak dianalogikan sebagai sebuah penjara, yang benar-benar merusak segala sistem spiritual, benar-benar mengurung segala potensi yang ada, benar-benar membatasi imajinasi yang luas, tentang semua mimpi yang telah dibangun selama 21 tahun kehidupan. Dari keinginan untuk menjelajahi dunia, keinginan untuk membahagiakan manusia, atau keinginan untuk sekedar menjadi orang bermanfaat bagi kehidupan.

Penjara itu bernama Pornografi. Kalimat itu sendiri merupakan salah satu bab yang akan menyertai buku pertama saya berjudul “Ketika Di Dalam Penjara” yang sebenarnya saya tulis dalam keadaan saya masih berjuang untuk 100% keluar dari kecanduan saya terhadap pornografi. Sebagai orang yang sudah mengalami kecanduan terhadap pornografi, saya merasa bahwa akan sangat susah untuk keluar dari hal tersebut. Belum lagi ketika kita membahas tentang bagaimana tanggapan orang tentang pornografi di Indonesia. Tidak sedikit yang menganggap bahwa pornografi adalah hal yang wajar bagi kalangan muda, terutama bagi kalangan cowok. Dalam sebuah diskusi ringan, saya pernah menyampaikan bahwa Pornografi itu sudah layak diibaratkan sebagai narkoba dan tentu saja pernyataan ini dibantah oleh berbagai kalangan. Masih kurang sekali bukti ilmiah yang membahas tentang bahaya pornografi, dari pengamatan saya, hanya sedikit saja penelitian yang membahas sisi ilmiah dari pornografi. Bahkan, ada juga yang menyertakannya dengan pembuktian berupa CT Scan. Meskipun, masih sangat disayangkan bahwa penelitian itu belum valid untuk menyatakan bahwa Pornografi adalah masalah kesehatan baru yang harus dicegah. Tetapi, penelitian ilmiah tersebut tentu saja diharapkan akan membuka mata kita akan bahayanya pornografi terutama dari segi psikososial, belum lagi dari segi fisiologis.  


Ketika kita melihat lebih jauh lagi, terutama ke negara yang menganggap pornografi masih sebagai hal yang biasa. Telah banyak organisasi ataupun perusahaan yang mendukung tindakan anti pornografi tersebut. Meskipun, tidak sedikit juga yang gencar memberikan dukungan terhadap tindakan tersebut. Contoh paling gampangnya di negara bagian California, ketika itu sedang digalakkan sebuah kampanye anti kebijakan yang secara ekstrinsik tidak menguntungkan bagi pelaku industri film biru. Di satu sisi, pihak yang anti terhadap pornografi di negara maju pun kian gencar melakukan kampanye dan menunjukkan kesuksesan. Contohnya, seorang bintang bernama Pamela Anderson yang dianggap sebagai salah satu simbol seks dunia ketika itu, dia membuat sebuah surat terbuka tentang rahasia bobroknya industri film pornografi. Sebuah surat terbuka yang juga banyak sekali mendapatkan dukungan bahkan dari orang yang sudah keluar dari industri tersebut, seperti Sasha Grey, Bree Olson, ataupun Shelley Lubben yang mendirikan Pink Cross Foundation untuk membantu mantan pekerja seksual untuk memperoleh kehidupan layak.

Buku ini dapat dikatakan sebagai buku uji coba untuk saya, karena keputusan saya untuk membuat buku ini tergolong instan. Jika tidak karena beberapa pembaca yang ingin saya menulis buku tentang kisah saya terkurung di jeruji pornografi ini. Para pembaca setia saya mungkin mengenal saya karena tulisan tentang musik di Kompasiana atau tulisan tentang kesehatan di blog Dokter Foramen yang sekarang sudah dihapus atas alasan maintenance yang akan memakan waktu lama sampai mungkin saya sukses memperoleh gelar Dokter. Tetapi, pada suatu waktu, saya sempat menulis di sebuah blog, menceritakan perjuangan saya untuk bebas dari penjara adiksi ini. Berjuang melawan rasa sakaw, menjaga kemungkinan dari adanya relaps, serta mencari taktik ke depan jika harus berakhir dengan episode relaps yang penuh rasa bersalah. Blog tersebut berbahasa Inggris, dan sempat tidak saya bagikan kepada teman-teman pembaca atas indikasi kerahasiaan. Meskipun, alangkah baik untuk terbuka tentang perjuangan tersebut ke orang terdekat untuk mengurangi beban yang ada. Sehingga, untuk melengkapi segala perjuangan saya melawan pornografi tersebut, saya putuskan untuk menulis buku tentang perjuangan saya ini. Sebuah perjuangan yang masih belum menemukan titik akhir sampai sekarang ini.

Buku ini pada intinya berisi 8 bab dengan menggunakan sistem dialog, sebuah pendekatan yang sering saya lakukan kala saya masih mengurus blog kesehatan saya. Membahas tentang seluk-beluk pornografi, baik itu dari segi sosial mencakup pengertian serta penemuan ilmiah yang ada dalam penelitian sosial. Buku ini tidak akan lengkap jika tidak ditambah dengan pendapat pornografi dari sisi ekspertise saya yaitu di bidang kesehatan. Dalam buku ini, akan ada pembahasan tentang pornografi yang memiliki efek mirip dengan narkoba. Sebuah pernyataan yang cukup kontroversial dan menggelikan, bahkan jika anda menanyakan ke para kapitalis pornografi. Selain itu, buku ini akan dilengkapi beberapa surat yang saya persembahkan untuk banyak orang, baik itu para pelaku, orang yang pernah aku tinggalkan karena pornografi, ataupun para remaja yang masih rentan terhadap penyebaran pornografi tersebut. Akan tetapi, semuanya akan berawal dari sebuah pertemuan yang intens antara saya dan Andi, seorang pecandu yang mencoba untuk keluar dari jeratan pornografi tersebut.

Untuk proses percetakan buku ini, saya serahkan sepenuhnya kepada Indie Book Corner (IBC). Hal ini cukup menguntungkan tentunya bagi saya, karena IBC ini merupakan penerbit yang benar-benar membantu untuk mencetak, menerbitkan bahkan mempromosikan buku yang ditulis tanpa melalui proses seleksi. Sebuah terobosan bagus untuk para penulis yang tentu saja sudah punya modal, baik dari segi skill ataupun finansial dan ingin memperoleh apresiasi tentang karyanya. Bagi saya, tentu momen ini harus disambut baik, terutama dalam mengembangkan karir menulis saya yang mengambang tidak tahu arah. IBC membantu segala pengurusan buku, baik itu dari editing, proof-reading, layout naskah, bahkan pemberian cover dan pembuatan ISBN. Tentu saja mendapatkan segala jenis fasilitas ini tidaklah gratis, membutuhkan modal yang cukup mumpuni.

 
Sebagai penutup tulisan tentang buku ini, saya pribadi berharap bahwa dengan dilepasnya buku ini di ke media luas, buku ini dapat memberikan kesan positif khususnya untuk para pembaca. Buku ini dapat kembali membuka segala percakapan tentang pornografi, khususnya di Indonesia. Karena, masih banyak para remaja yang tidak menyadari akan bahaya yang mereka hadapi sebelum mengenal pornografi. Semoga, mata dan pikiran mereka kelak terbuka. Tentu saja, karena ini buku pertama, pasti ada kesalahan yang tertera di buku ini, baik dari segi penulisan ataupun dari segi materi atau pendekatan. Sehingga, kritik dan saran konstruktif sangat diterima sesuai dengan bagian-bagian surat yang saya buat di bagian penutup buku ini. Satu hal yang saya tidak duga adalah bahwa saya sangat tidak menyangka bahwa akhirnya saya menulis dan menerbitkan buku. Sebuah pencapaian yang bahkan tidak semua orang rasakan atau pernah lakukan seumur hidup mereka.

Sehingga, terima kasih untuk semuanya! Selamat membaca buku “Ketika Di Dalam Penjara” yang akan rilis pertengahan atau akhir bulan ini. Semoga akan tertera di hati kalian semua!

Semoga saya bisa menjadi perwakilan bagi para remaja yang masih terkurung di penjara tersebut untuk bisa berani berkata lebih banyak tentang pornografi.

Februari 2017 / KETIKA DI DALAM PENJARA / FARHANDIKA MURSYID / 104 halaman
Soon to INDIE BOOK CORNER
Harga Buku : Rp 60.000, jika berminat.

Thursday, January 19, 2017

Fokus Menulis mulai Tahun 2017? #CurhatGue Ep. 7

14 Januari 2017, 08:18 a.m (GMT+7)

Pagi hari ini gue awali dengan mencari sumber-sumber untuk tugas gue dan tentu saja beriseng sejenak di dunia maya. Jujur, gue sendiri mulai merasa galau akan karir menulis gue ini. Yang jelas di tahun 2017 ini gue akan merilis buku pertama gue setelah berjuang berbulan-bulan melawan penyakit umum para penulis yaitu writer's block.

Sekedar info, writer's block adalah sebuah kondisi dimana penulis mulai kehilangan semangatnya untuk menulis. Tentu saja menulis secara produktif. Mereka kehilangan ide atau inspirasi tertentu. Itu juga yang sering kali gue rasakan. Apalagi jika harus berhadapan dengan yang namanya konsistensi, yang sudah menjadi kelemahan absolut dalam diri gue.

Seketika gue mulai kepikiran lagi untuk menulis di Kompasiana, mulai berpikir tentang cara nyari duit halal dari Kompasiana yang terkenal banget tidak memberikan sepeser apapun kepada penulisnya. Ibaratnya seperti blogging tanpa Adsense. Padahal jika dilihat kembali, tulisan gue itu sebenarnya bisa menghasilkan uang banyak untuk gue sendiri. Apalagi ditambah dengan gue yang mulai memiliki pembaca yang cukup sabar menanti tulisan gue, meski mungkin harus berakhir dengan PHP dari gue sendiri.

Kembali ke pagi tadi, ya, gue mulai membaca tulisan terakhir gue di Kompasiana tentang Penghargaan pada skena Hip-Hop Indonesia sendiri. Artikel tersebut memang banyak dikritik karena tidak setajam artikel hip-hop yang gue buat sebelumnya. Tetapi, dari sisi positif, gue mulai dikenal beberapa kalangan besar hip-hop. Sehari setelahnya, para pembesar hip-hop seperti Doyz, John Parapat, Mas Doniel (ex grup Neo) ataupun 8 Ball juga turut memberikan umpan balik terhadap tulisan gue, serta pendekatan yang gue lakukan dalam tulisan gue. Mereka memberikan nasehat berharga dan terus mensupport tulisan gue. And yez, i love that way!

Dan seketika, gue pun tidak menyangka bahwa muncul komentar di artikel Kompasiana gue dari seorang jurnalis favorit gue dari majalah entertainment terkenal di Indonesia. Benar-benar mimpi di siang bolong. Dia ingin meminjam artikel gue untuk diterbitkan di halaman mereka. Kaget! Meskipun gue telat menyadari komen itu karena sudah berlangsung sejak 1,5 bulan lalu. Setidaknya, gue mulai sadar bahwa tulisan gue sudah dianggap relatif serius oleh berbagai kalangan.
(Terima kasih, Kompasiana!)

Dari situ, gue mulai memikirkan satu hal yang cukup krusial dalam hidup gue.

"Haruskah gue pusatkan karir gue di bidang menulis tahun 2017?"

Jika gue masih berstatus mahasiswa, atau pelajar SMA, mungkin pertanyaan ini akan lebih mudah terjawab. Mengingat pada usia tersebut, pilihan masih banyak dan masih belum banyak penyesalan yang ada. Sekarang, gue berstatus sebagai koass, atau lebih tepatnya mahasiswa program profesi kedokteran. Sebuah program transisi dari mahasiswa FK setelah sukses meraih gelar Sarjana untuke memperoleh gelar dr. (Dokter). Terkenal juga dengan sebutan Dokter Muda.

Jika kalian mencari kata "koass" di Google, pasti anda menemukan pernyataan soal susahnya menjadi koass, atau kondisi koass yang selalu dijadikan babu, atau situasi mereka yang benar2 bikin depresi, karena berada dalam kasta terbawah dari proses pelayanan di rumah sakit. Percayalah. Itu semua benar adanya. Terkadang, kita harus stay 36 jam di RS tanpa dibayar sepeserpun, bahkan kita yang membayar administrasinya. Hal itu akan berjalan dalam waktu 2 tahun, jika tidak ada masalah.

Pelaksanaan masa koass ini memang cenderung membuat depresi bertambah. Entah itu dari proses pelaksanaan, dari segi staff yang otoriter, ataupun kondisi kelompok yang kurang kondusif. Bahkan, jika tidak terbendung lagi, bisa saja berakibat ke munculnya pikiran untuk bunuh diri atau mencederai diri sendiri. Bisa saja. Bahkan saya pun sempat berada pada fase itu.

Depresi berat juga yang membuat saya mulai kembali merasaka writer's block, bahkan saya sendiri masih berada pada bulan ke 7 pada fase koass ini. Saya bisa saja menyalahkan fase ini atas kehilangan ide dalam kegiatan menulis produktif saya. Sehingga pada usia saya yang 21 tahun ini, saya kembali bertanya tentang tujuan hidup dan passion hidup saya.

Pada usia ini, mulai muncul pikiran sesat untuk keluar dari fase koass yang ga jelas ini. Mungkin ini hanya pikiran goblok dan penuh resiko, karena saya akan mempertaruhkan dan mengotori harga diri saya di depan keluarga yang tentu saja berharap saya memperoleh gelar dokter. Mereka pastinya berharap semoga ketika mereka sakit, saya yang akan menyembuhkan mereka. Belum lagi di depan teman-teman ataupun teman-teman orang tua saya yang selalu dipamerkan tentang status saya kepada mereka. Dilema besar.

Tetapi, saya mulai teringat sebuah pidato di akhir lagu "The Incredible True Story" milik Logic.

"Better to have a short life that is full of what you like doing rather than a long life spent in a miserable way."

Tentu saja, kita tidak tahu kapan kita akan meninggalkan dunia ini. Apakah dalam waktu lama atau sebentar lagi.
Tentu saja, kita ingin melakukan sesuatu yang benar-benar kita senang untuk menjalaninya. Meskipun ada halang rintang, tetap diarungi dengan santai dan senang.

Gue pun menyenpatkan diri untuk konsultasi ke orang tua gue tentang perasaan hati gue sekarang ini yang benar-benar tidak tahu arah. Yang gue dapatkan hanyalah motivasi untuk tetap melanjutkan, bahkan pertimbangan gue untuk berhenti dan melanjutkan karir menulis gue dianggap sebagai keputusan yang goblok dan menganggap gue terkesan sombong dengan kesuksesan gue yang cukup instan dalam menulis. Bahkan, mereka juga ikut berkata apakah kamu sudah kerasukan setan. Reaksi yang cukup logis. Mengingat, gue sudah satu tahun lagi memperoleh gelar "dr." a.k.a "Dokter". Mungkin jika gue curhat ke orang terdekat gue, pasti akan berujung ke jawaban yang sama.

Gue sendiri menyadari bahwa gelar dokter itu penuh dengan tanggung jawab, tetapi tidak sedikit dokter yang mulai berpikir untik keluar dari lapangan mereka. Hal itu jugalah yang membuat gue mulai pertimbangkan masa depan gue. Terutama seorang dokter sekarang ini sudah tidaklah se-elit yang orang-orang pikir.

Terkadang, gue mulai merasa iri dengan profesi jurnalis ataupun penulis sebuah situs. Bagaimana mereka bisa menyumbangkan sebuah tulisan, entah itu fakta ataupun opini yang benar-benar mengagumkan dan menggugah banyak orang. Tidak sedikit juga orang yang hidup layak dengan goresan pena ataupun ketikan di keyboard. Bahkan, gue sendiri mulai mencari celah dengan iseng mendaftarkan diri sebagai penulis lepas (freelancer). Keputusan yang cukup berani.

Bahkan, dalam perjalanan ngeblog gue, gue juga menemukan seseorang mantan mahasiswa FK yang sukses menjalani bisnis blog. Hal ini tentu menbuktikan bahwa kita bisa berkarir dan sukses jika kita senang dengan apa yang kita lakukan.

Bagaimana jika aku meneruskan di lapangan yang bahkan aku tidak suka untuk berada di sana.

Mungkin asumsi bahwa aku akan menjadi "dumb doctor" bakal beredar dimana-mana, apalagi dalam kondisi seperti ini, saya mulai mera

Pasti tidak semua orang ingin dirinya ditangani oleh seorang yang dianggap sebagai "dumb doctor"?
Iya kan.

Kembali ke pertanyaan sebelumnya, apakah aku akan fokus menulis mulai tahun 201?

Jawaban yang mungkin akan muncul adalah.
"Semoga Allah mempermudah aku untuk menjawabnya".
Amin.






Sunday, January 8, 2017

#RimaHarian Ep. 1

8 Januari 2017, 4:15 a.m


Selamat sore teman-teman! Sudah lama nih saya tidak mengisi blog lagi. Jujur, akhir-akhir ini, saya mengalami depresi serta banyak hal lain, bahkan saya ga berniat untuk melakukan banyak hal akhir-akhir ini. Termasuk menulis produktif (seperti artikel dan opini), sehingga ujungnya gue meninggalkan banyak banget draft di laptop.

Sekarang ini, gue lagi mau on the way ke Banyumas (lagi), karena dua minggu sebelumnya, gue baru pulang dari sana. Dan gue tiba-tiba kepikiran sesuatu, terinspirasi dari status Facebook.

Yaitu, rima harian!
Di #RimaHarian ini, gue akan melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Rima. Of course we know, fans hip-hop sendiri juga tentu saja ngefans dengan musik rap yang notabene adalah unsur vokal dari kultur hip-hop sendiri.

Di edisi #RimaHarian kali ini, gue akan mencoba sendiri membuat rima gue. Berhubung ini perkenalan, jadi maafkan jika rima gue ini kurang berkelas. Apalagi jika dibandingkan dengan rima rapper-rapper yang berpartisipasi di program 16 Bar yang dilakukan oleh produser Hip-Hop ternama, Lipooz.

Tidak hanya gue mencoba untuk membuat rima sendiri, di #RimaHarian ini, gue juga akan membahas tentang rima yang dilontarkan beberapa rapper Indonesia yang menurut gue sangat ciamik atau at least, layak untuk dibahas serta direfleksikan.

Kok rap sih?
Rap itu kan kepanjangan dari rhyme and poetry, jadi yaa.. layak lah untuk dibahas. Apalagi dalam hip-hop, ada teknik2 tersendiri untuk meroketkan rima-rima sehingga meninggalkan kesan artistik.

Tak usah panjang-panjang, mari kita lihat rima pertama yang akan menghiasi seri #RimaHarian ini.

#RimaHarian Ep. 1

Bagi teman2 yang ingin menjadi rapper atau cinta hip-hop/
Coba iseng2 bikin rima di sosial media, biar kelak makin top/
Tingkatkan teknik/ biar kamu makin ciamik/
Terima kritik/ karena itu akan mempercantik/
Mungkin sekali-kali kau butuh piknik/
Menambah referensi yang hanyalah sebatas titik titik/

Hey kawan,
Jadikan ini passion, bukan sekedar fashion/
Berikan action, bukan sekedar sensation/

Gue bingung bagaimana harus rimaku berakhir/
Semakin aku teruskan, ideku semakin lahir/

Wednesday, December 7, 2016

Progress Buku Pertama (#CurhatGue Ep. 06)

7 Desember 2016, 5:21 p.m (GMT+7)



Halo teman-teman pembaca semua! Mohon maaf banget nih gue udah lama banget ga nulis di blog. Selain karena jadwal yang relatif padat, gue sempat dirundung masalah yang banyak, dan sempat mengalami sedikit depresi, yang mengurangi semangat gue untuk jadi produktif. Ceritanya panjang banget lah itu. Untungnya, semuanya berangsur berkurang seiring berjalannya waktu. Dan, semangat produktif gue kembali meningkat!

Berbicara tentang produktif, beberapa postingan yang lalu, gue sempat membahas tentang rencana gue untuk menerbitkan buku pertama gue.

Buku Pertama. Segera!

Akhirnya, setelah berjuang menemukan ide serta karakter buku yang ingin gue terbitkan, gue akhirnya memutuskan untuk lanjutin menulis buku gue. Kebetulan, akhir-akhir ini, gue sedang semangat banget untuk menyelesaikan itu. Kebetulan, jadwal gue juga yang relatif santai, ditambah dengan dukungan dari banyak pihak, mulai dari pembaca setia gue, orang tua gue, masih banyak lagi.

Yup, sampai tulisan ini dibuat, progress buku gue ini sudah mencapai sekitar 80% untuk naskah. Doakan gue juga ya semoga naskah buku gue ini bisa masuk ke percetakan dan bisa diterbitkan oleh penerbit yang populer.

Sedikit petunjuk, buku ini memang membahas tentang tema yang pernah gue sampaikan sebelumnya di postingan dimana gue mengumumkan bakal nulis sebuah buku. Tetapi, approach gue dalam menulis untuk buku ini relatif berbeda. Yang jelas, gue ga bakal menulis buku seperti yang orang lain tulis. Itu aja sih! Make an innovation!

Cuma, gue bakal ngasih satu clue apa yang akan jadi kemungkinan judul buku gue.

Yaitu, dua gambar ini!




Wednesday, November 9, 2016

Reject, Respect, React (#PikiranGue Ep. 3)

Halo teman-teman semua! Balik lagi ke blog gue, setelah sekian lama gue ga ngeblog, karena alasan tertentu. Kebetulan blog ini sebenarnya adalah blog yang bersifat hutang ke beberapa temen gue di media sosial, sebagai sesama pecinta hip-hop, dan di posisi gue sekarang ini sebagai hip-hop blogger dan hip-hop writer. 

Gue kali ini akan ngebahas tentang pendapat gue mengenai artikel MetroTV mengenai Young Lex, yang terus terang menurut gue emang sensasional dan tentu saja kontroversial.

METROTVNEWS.com - Young Lex dan Ambisi Merajai Hip-Hop Indonesia



Emang akhir-akhir ini Young Lex kayaknya ga jauh dari yang namanya sensasi. Dan, sayangnya sensasinya jelek-jelek mulu. Sekedar info aja sih, sebelum artikel itu beredar, Young Lex juga pernah bikin sensasi ketika dia kumpul-kumpul membahas soal Hip-Hop, dan salah satu bahasannya yaitu tentang diss track.

Menurut gue sih, dia ada poin bagus sih, terutama ketika rapper-rapper yang emang populer cuma gara-gara ngediss, terus pas udah naik, malah bikin karya yang terkesan medioker dan malas. Tapi, sayang aja, dia nyebut nama 8 Ball, which is menurut gue one of the best underground rapper of all time, karena mungkin kebanyakan fans Hip-Hop mengenal 8 Ball dari lagu diss track dia, apalagi waktu itu ketika dia nge-diss Kangen Band atau Agnes Monica yang sempat viral banget,

Di video itu, Young Lex bilang bahwa 8 Ball memang populer karena diss track, tetapi dia cuma sementara doang.

Respon terhadap video itu bermacam-macam, dan tentu saja banyak dari sisi negatifnya, bahkan 8 Ball sendiri langsung merespon dengan caranya sendiri.

YAK. MERILIS DISS TRACK UNTUK YOUNG LEX!
Of course, kalian semua sudah mendengar track tersebut. Jika belum, yaudah, gue share ulang lagi aja.



Back to the article! Di situ, ada beberapa poin yang menurut gue agak aneh, dan wajar kalo dibilang sensasional dan kontroversial. Inilah beberapa poin yang gue maksud itu.

1. Dia ingin populer dengan menjadi tokoh anti-hero.

Tokoh anti-hero atau villain atau gampangnya, antagonis memang menjadi tokoh yang paling gampang diingat dalam sebuah film. Contohnya, seperti Dr. Octopus dan Venom di film Spiderman, Loki di film Thor, atau Joker di film Batman. Mirip2 juga kalo kita menjadi panitia MOS atau OSPEK sekolah, pasti panitia yang paling populer itu adalah komisi disiplin, yang doyannya ngebully atau bentak-bentak, yang istilahnya sebagai orang jahat dalam setiap kegiatan. Strategi itulah yang sebenarnya diangkat oleh Young Lex dan manajemennya.

Good strategy!

Tetapi ada sisi negatif dari strategi tersebut. Yaitu, jika memang ingin menjadi tokoh villain atau anti-hero, tokoh tersebut harus memiliki skill yang mumpuni. Sehingga, tentu persaingan antara tokoh protagonis dan antagonis akan terlihat sangat menarik jika diabadikan dalam sebuah film

Kita melihat dari apa yang terjadi antara Young Lex dan 8 Ball sendiri. Banyak fans Hip-Hop yang sebenarnya ingin 8 Ball  ngediss Young Lex, tetapi 8 Ball baru mulai panas ketika namanya disinggung dalam video yang disebut diatas. Sehingga, hasilnya muncul track "Reject Respect". Tetapi, sampai sekarang, kita belum melihat respon langsung dari Young Lex. 

Bahkan, ketika Ecko Show ngeluarin diss track terhadap Young Lex berjudul "Pikir Lagi", Young Lex memilih untuk menjawab via Instagram ketimbang lewat lagu. Padahal, diss track is not just a diss, it's all about skill fighting, it's like when you play boxing.

Saran : jika emang ingin jadi tokoh anti-hero, pertambah skill, bisa terapkan strategi Drake atau mungkin Kendrick Lamar (fakta : setelah verse Kendrick di Control, banyak yang menganggap Kendrick sebagai tokoh anti-hero setelah nyebutin banyak rapper di verse tersebut, dan efeknya? SKENA HIP-HOP AMERIKA KEMBALI MENARIK BUNG!, ya habis itu rilis album keren lah)

2. Dia senang dengan haters, bahkan ingin ngajak haters untuk kelahi

Mungkin, statement ini agak salah tafsir. Tapi, kalau anda lihat di jawaban Young Lex, dia bilang kayak gini,

"Gue sampai ingin bikin eksperimen sosial, menantang haters gue untuk ketemu langsung di lapangan. Misal gue umumkan di Instagram untuk ketemuan di Lapangan Banteng dan kalau ada yang mau ajak berantem ayok berantem. Gue pengin tahu apakah memang ada dan ending-nya seperti apa. Tapi bisa juga misal tidak ada yang datang, atau ada yang datang dan malah jadi berdiskusi"

Itu hasil kopian gue sendiri betewe.

Jawaban gue cuma ini
"Haters yang cerdas ga bakal ngajak orang berantem, karena lebih baik pake otak daripada pake otot. Mending gue gunain otot gue buat hal bermanfaat daripada dipake buat ngelukain orang. Ingat! Cedera mental sometimes lebih parah dari cedera fisik".

3. Dia deket dengan ibu ketimbang bapak.

Mmm.. gue juga sih, so nothing bad about it. Tapi, ya, sampe bilang kalo banyak rapper ngebunuh bapak itu sih lebay. Karena, ya hakikatnya, cintailah orangtuamu. ASIIK! Gue salut dengan kejujuran dia tentang nyokapnya. Gue juga tinggal di rumah bareng nyokap kok. Tapi, ya kalo disuapin itu lebay sih, tapi emang tangan nyokap selalu lebih enak.

Kok jadi curhat gini sih?

4.  Menurut dia, tidak ada rapper yang layak dijadikan legenda, dan dia tidak nyambung dengan rapper generasi lama.

Pernyataan ini memang disebut paling memancing kontroversi. Seperti ini kira-kira

Ketika ditanya tentang apakah pernah diskusi dengan rapper generasi lama:
Belum karena enggak bakal masuk. Keadaan sudah berbeda, mungkin dulu mereka terkenal. Tetapi kalau dibanding dengan rapper generasi sekarang, mungkin skill mereka nilainya 20. Karena mereka sudah tidak up to date.  Mereka akan "mati" dengan sendirinya, mereka terkenal karena era-nya.

Ketika ditanya tentang rapper Indonesia yang layak memperoleh predikat "legenda":
Belum ada. Karena di luar yang dianggap legend itu dari segi skill kuat banget. Di luar, musisi hip-hop yang pantas dibilang legend memiliki sisi histori dan story yang panjang. Sorry to say, bahkan Iwa K dianggap legend karena terkenal duluan, tetapi bukan karena skill. Iwa K booming di sini karena di luar hip-hop sedang booming. Beda dengan N.W.A misalnya yang menyuarakan "Fuck the Police," karena memang real yang dihadapi mereka seperti itu. Mereka melihat bagaimana orang kulit hitam berkumpul dan dianggap kriminal oleh polisi. Mereka suarakan itu, itu yang membuat mereka menjadi legend.

Komentar ini juga direspon langsung oleh Iwa K, terutama waktu itu, perwakilan Young Lex menyatakan bahwa dia sudah minta maaf ke Iwa K dan menyatakan bahwa jurnalisnya mempuntirkan perkataan Young Lex. Inilah respon Iwa K real lewat Path.


Sebenarnya, statement ini cukup menggelitik karena sebenarnya menurut gue, legenda pada hip-hop itu tidak hanya tentang skill, tetapi juga ketika kita membahas tentang legacy yang ditinggalkan, dan lainnya.

Menurut gue, approach yang dilakukan dari Iwa K, 8 Ball, Saykoji even Young Lex itu sebenarnya sama, yaitu membuat Hip-Hop semakin terdengar dan akrab di kalangan awam. Apalagi dengan lirik yang jenaka, diatur dengan wordplay yang ringan, dan pesan yang bagus. Mungkin jika Young Lex ga macem-macem, kayak ngomong kata-kata jorok, atau bikin sensasi negatif. Kelak, menurut gue Young Lex bisa termasuk dalam status legenda, karena legacy yang dilakukan untuk membuat Hip-Hop terdengar lebih dalam lagi.

Betewe, terutama untuk yang belum paham banget soal 8 Ball, dan cuma tau dia dari diss track doang. Mungkin, bisa dengarkan album Kenalin, ya dengarkan secara legal, karena sudah masuk Spotify dan iTunes, liriknya ringan, jenaka dan menyesuaikan tema harian, dan tentu saja menyimpan kritik sosial juga.

Contohnya lagu ini nih.. KEREN!!



But, yup, it is all lost. Young Lex sudah kehilangan respect dari para pendahulu Hip-Hop, even dari mentornya sendiri, yaitu Mocharizma, dalam press release yang barusan dikeluarin oleh Zero One.

Tetapi, hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan penting

"HARUSKAH KITA MENGHORMATI GENERASI LAMA DARI HIP-HOP?"

Di Amerika juga, pertanyaan tersebut juga kerap menjadi bahan diskusi, terutama bagi rapper pendatang baru, seperti Lil Yachty yang bahkan ga hafal lagu-lagu Tupac atau Biggie. Bahkan dia sendiri nyebut bahwa Drake > Tupac and Biggie. Ya, seperti sebuah tembakan tajam bagi fans Hip-Hop, mengingat jika kalian tanyain ke hampir semua fans Hip-Hop, pasti TOP 10 mereka ada Tupac atau Biggie, mau dimanapun kalian letakin mereka. 

Apalagi, statement dari Lil Yachty tersebut juga menimbulkan perang antar generasi. Yaitu ketika Pete Rock, salah satu produser hip-hop legendaris merespon hal tersebut di sosial media. Hal ini juga mengingatkan kita tentang beef yang pernah terjadi antara Ice-T (gangsta rapper legendaris) dengan Soulja Boy di era 2000an. Ketika itu, media menyebutkan bahwa Ice-T membuat permintaan maaf, dan dunia seolah-olah mengejek Ice-T yang terlalu soft.

If you ask me, tentu saja jawabannya adalah YA! Tetapi, jangan berlebihan. Ya, kita juga harus menyadari bahwa musik sekarang sudah berevolusi, tentu saja selera musik kita bakal berubah. Mungkin di era 90an, musik boombap jadi raja, tentu saja ada rasa jenuh, dan sekarang di dekade ini, musik trap jadi bahan favorit. Banyak rapper yang ngarah ke beat trap, dan tidak sedikit juga yang mempertahankan era boombap.

Tetapi, kembali lagi, jangan mentang-mentang kita sudah di atas, kita dengan mudahnya menyebut rapper generasi lama ga nyambung dengan yang baru. Justru, kita harus berdiskusi dengan mereka, membahas tentang hip-hop dan lainnya, bahwa sekarang hip-hop sudah kayak gini. THEY ARE NOT STUPID! Apalagi, kalo dikatakan skillnya bernilai 20. Iwa K sama 8 Ball aja terlalu rendah buat dikatain begituan, apalagi rapper dengan rima yang kompleks banget, macam personil Homicide atau X-Calibour?

Dan, satu lagi, sebenarnya menurut gue, nilai skill orang itu bukan tanggung jawab kita juga sih, sebagai penikmat, karena approach setiap orang itu berbeda. Yang penting bagaimana esensi dari karya mereka sendiri, apakah bagus atau tidak, dan dapat diterima atau tidak.

Iwa K jangan dibanding-bandingin dong sama Morgue Vanguard.
8 Ball jangan juga dibandingin sama Doyz dong.

They have different approach.

Atau kalo mau ngeles dikit, ya bilang aja, maksudnya skill rapper lama itu ya tadi emang aku sih bilangnya 20, tapi sebenarnya itu artinya 20/20 kok.

Lagian, tanpa usaha dari mereka, toh rapper-rapper baru ga bakal dapat inspirasi juga toh buat ngerap?

Tetapi, bukan berarti rapper di era 90an juga harus dituhankan banget. Sesuai dengan apa yang dikatakan Logic di lagu "City of Stars".
"I love Hip-Hop but I hate Hip-Hop
Cause people that love Pac hope that Drake got shot
Cause he talks about money and bitches, for heaven's sake
Pac do the same thing, but it's on the drum breaks".
Intinya, dari lagu ini bahwa banyak yang menganggap bahwa Tupac is better than Drake, tetapi tetap ingat bahwa Tupac pernah ngebahas topik yang selalu dibawain Drake ketika ngerap. So, stop preaching about 90s so much!

MUSIC IS EVOLVING!

Bahkan, rapper Indonesia lainnya, si Rich Chigga, tetap pays respect ke Ghostface Killah, padahal eranya GFK berjalan pas Rich Chigga mungkin belum masuk TK. Tetapi, mereka tetap berkolaborasi, even Chigga malah ikut-ikutan freestyle dengan beat Wu-Tang.

So, one thing. RESPECT PENDAHULU KALIAN! 

5. Dia ingin masuk ke pasar Rich Chigga dengan belajar Inggris

Mmm... semoga ga separah ini deh.


6. Dia ingin bikin sekolah Hip-Hop di Indonesia

Mmm.. kayaknya kalo dance crew dan DJ, udah ada sih. Tapi, kalo rapper, ya kamunya juga harus pertajam skill dulu sih. Seriusan! Guru yang baik tentu saja harusnya guru yang punya skill tinggi, ga hanya bisa ngajar tok. Tapi, juga tau apa yang harus diajar. Toh?

Ya, masa ada rapper muda mau belajar sama guru freestyle kayak gini?



atau mungkin bisa belajar aja via bang Saykoji lewat video ini



7. Dia ingin bikin distro dan rumah makan di Indonesia

SEMOGA SUKSES YAA!! GUE DOAIN, SELAMA JALURNYA HALAL, GUE DUKUNG KOK!
ASAL JANGAN BIKIN RUMAH SAKIT AJA.. PLEASE!

Kecuali kalo mau bikin daster operasi bermerk YOGS, mungkin bisa kontak-kontakan via LINE, jadi dokternya ikut-ikutan SWAG pas operasi kan.


Final words : GUE TUNGGU YA BANG ALEK KLARIFIKASINYA!

Sunday, October 30, 2016

DOKTER NGEFANS HIP-HOP? (#CurhatGue Ep. 05)

Dokter kok bisa sih ngefans sama Hip-Hop?


Pertanyaan ini pasti muncul dari benak teman-teman pembaca terhadap gue, ya, apalagi karena tulisan yang ada di blog ini kebanyakan tentang hip-hop dan kebetulan tulisan terlaris gue di Kompasiana itu justru membahas soal Hip-Hop. Gue pernah ditanyakan oleh salah seorang teman di Facebook. In case yang belum tahu, gue sebenarnya masih berstatus sebagai mahasiswa program profesi di FK UGM (kebanyakan orang mengenalnya sebagai “Ko-Ass”, jadi belum begitu layak dipanggil dokter, meski di jas harian gue sudah ada tulisan “DOKTER MUDA”). Jadi, gampangnya, koass itu adalah setelah kita lulus S1 itu, seluruh mahasiswa kedokteran menjalani program klinis dimana fokus belajar kami itu bukan lagi di kampus, melainkan di Rumah Sakit atau Puskesmas.

Kembali kepada Hip-Hop!